Bagi yang sudah merasa kan dan mengalami dunia mancing tentunya tidak lah mengherankan lagi. Sebab dari pengalaman tersebut terbukti telah memberikan manfaat bagi pecinta mancing. Mancing tidak lain adalah memancing ikan dan udang di sungai atau pun dilautan lepas bebas dengan menggunakan sarana kendaraan baik itu sampan, sepit, klotok dan motor air, ada juga yang tidak membutuhkan kendaraan cukup bersandar dan duduk ditepi sungai dan pantai, semua kegiatan itu tergantung penghobi mancing. Banyak memang peralatan untuk mancing seperti juran pancing lengkap, kurungan (ikan dan udang), sauk-sauk dan serampang serta persediaan perlengkapan lain-lainnya yang harus dibawa. Nah disini lah dari para pencinta atau penghobi mancing dapat merasakan manfaatnya sebagai berikut ; Menghilangkan rasa jenuh ataupun bosan dengan setumpuk pekerjaan dikantoran ataupun dirumah. Menstabilkan daya otak yang slalu untuk berfikir. Mendiamkan alam perasaan dan fikiran dari segala khayala...
Konon, di negeri Mesir pernah terjadi dua makhluk manusia yang sedang ber-adu untuk menahan lapar. Satu wali allah , sedangkan satu lainnya seorang rahib. Mereka berdua menahan lapar hingga selama 41 hari, dan ternyata hanya satu dari mereka yang mampu bertahan hingga waktu yang disepakati. Abu Bakr Al Farghani adalah seorang ahli ibadah yang tidak memiliki apa-apa. Walaupun begitu, dia menampakkan diri sebagai seorang saudagar. Ia memakai pakaian rangkap berwarna putih, mengenaikan surban dan sandal bersih di tangannya ada kunci besar yang bentuknya indah. Sedangkan Al Farghani sendiri tidak memiliki rumah dan tidur dari masjid ke masjid. Namun karena penampilannya, masyarakat umum memandang Al Farghani sebagai seorang saudagar, hanya kalangan khusus saja yang mengetahui hakikat keadaan ahli ibadah ini. Suatu saat, Al Farghani melakukan perjalanan ke Mesir dengan pakaian indahnya tersebut. Para ahli ibadah pun tahu bahwa yang datang adalah ahli ibadah, hingga mereka berkumpul unt...
Di antara sekian banyak sahabat Nabi, hanya Ali bin Abi Thalib-lah yang diberikan sebutan karamallahu wajhah; sebuah sebutan yang juga berarti doa "Semoga Allah memuliakan wajahnya" atau "Allah telah memuliakan wajahnya." Semua ulama sepakat bahwa doa itu hanya dikhususkan untuk Imam Ali saja seperti halnya sebutan shalallahu 'alaihi wa alihi wassalam untuk Nabi Muhammad. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan hal ini. Salah satu riwayat diantaranya menjelaskan alasan tentang doa itu. Pertama, di antara semua sahabat Nabi saw, hanya Ali bin Abi Thalib yang tidak pernah menyembah berhala. Dia masuk Islam dalam usia yang masih kecil sehingga tak sempat beribadah kepada berhala. Artinya, wajahnya tak pernah disujudkan kepada berhala. Ali kecil langsung sujud kepada Allah swt. Alasan kedua, Imam Ali adalah orang yang dikenal tak pernah melihat aurat, baik aurat dirinya sendiri maupun aurat orang lain. Konon, dalam sebuah pertemuan di Shiffin, pasukan Imam Ali...
Kisah Sufi dan Pemuda Galau Rupanya, kegalauan yang melanda sebagian besar pemuda zaman ini pernah juga dialami oleh pemuda-pemuda yang hidup di masa kejayaan Islam. Sama halnya dengan penyebab kegalauan zaman ini yakni perekonomian atau rejeki dan pasangan hidup atau jodoh, hal itu juga dirasakan oleh pemuda zaman dahulu. Memang masalah rejeki dan jodoh adalah perkara yang sangat meresahkan sebagian pemuda terlebih yang mereka tidak memiliki keyakinan yang kuat akan kekuasaan Allah Swt. Seorang Sufi besar bernama Imam Ibrahim bin Adham pernah menjumpai seorang pemuda yang duduk termenung. Rupanya pemuda itu sedang galau, memikirkan hidupnya. Sang pemuka Sufi itu pun menghampiri pemuda tersebut dengan penuh akhlak dan keramahan. Setelah memberi salam, Ibrahim bin Adham berkata kepada pemuda tersebut, “Duhai pemuda, bolehkan aku bertanya tiga hal, namun tolong jawablah pertanyaanku dengan jujur.” “Baiklah, Wahai Imam, akan aku jawab pertanyaanmu dengan jujur,” Sahut si ...
Martir pertama dalam tasyawuf Husain ibn Mansur al-Hallaj ; adalah syeikh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: "Akulah Kebenaran", ucapan mana yang membuatnya dieksekusi secara brutal. Bagi para ulama ortodok, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid'ah, sebab Islam eksoteris tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut. Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pen...
Comments
Post a Comment
BERIKAN KOMENTAR ANDA SEUAI TOPI DALAM RANGKA MEMBERIKAN MASUKAN KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ARTIKEL ATAU KONTEN BERIKUT INI : ???